Terbongkarnya Siasat Para Pembisik Dalam Silaturahmi SBY dan Jokowi

0
16375
Presiden Jokowi dan Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono melangkah bersama di Istana Negara.

Tidak sampai nalar saya membaca pemberitaan media massa sehari ke belakang. Rupanya masih ada pula kalangan yang hendak merecoki keharmonisan komunikasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi. Padahal, silaturahmi kedua negarawan itu baru kemarin. Padahal segenap rakyat Indonesia baru gegap-gempita atas pertemuan dua pemimpin utama negeri ini.

Tetapi politik memang sadis. Gagal membendung silaturahmi, kini prosesinya yang diobok-obok. Ada upaya membanding-bandingkan dengan pertemuan antara Jokowi dan para ketua parpol sebelumnya. Tujuannya agar miss-komunikasi SBY dan Jokowi terus terjadi. Seakan-akan, SBY tidak menghormati Jokowi. Seolah-olah Jokowi tidak tulus menerima SBY di Istana Negara.

Perbedaan penyambutan Jokowi terhadap SBY tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dianalisis sebatas ada-tidaknya jamuan makan siang. Bukan itu yang penting. Bagaimanapun, SBY memang berbeda dengan tamu-tamu Jokowi sebelumnya. SBY hadir sebagai Presiden ke-6 RI, bukan dalam kapasitas Ketua Umum Parpol Demokrat. Karenanya, SBY datang didampingi Djoko Susanto,  Menkopolkam semasa SBY memerintah. Ini klop dengan seloroh SBY yang kental nuansa “kepresidenan”: presiden itu hidupnya tidak tenang.

BACA JUGA

Meluruskan Pemberitaan Miring tentang Mobil VVIP Presiden RI-6 SBY

Diajak Demo ke DPR, Ratusan Mahasiswa Malah Dibawa ke Rumah SBY

Menurut saya, yang terpenting adalah pembicaraan SBY dan Jokowi. Pembicaraan empat mata mereka lebih panjang ketimbang waktu yang diluangkan Jokowi untuk para ketua parpol sebelumnya. Media tidak diperkenankan meliput sejak dari kedatangan SBY ke istana. Baru setelah keduanya berada di teras Istana, media dibolehkan mengambil gambar. Ini berbeda dengan petemuan-pertemuan Jokowi sebelumnya, di mana media terus mengiringi.

Baca juga  SBY, ARB, dan AHY Hadiri Konser Patgulipat Deddy-Dedi di Bogor

Pembicaraan empat mata ini pokoknya. Di sini SBY blak-blakan. Dia melakukan klarifikasi secara baik dengan niat dan tujuan baik atas segenap hal yang enam bulan terakhir dituduhkan kepadanya. Tujuannya, agar penyakit prasangka, praduga, perasaan enak atau tidak enak, atau saling curiga antar keduanya.

Klarifikasi ini pasti meliputi tudingan-tudingan yang merusak keharmonisan hubungan antara SBY dan Jokowi – semacam tuduhan SBY menggerakkan dan mendanai aksi 4 November 2016, terlibat upaya makar, memerintahkan mengebom Istana, dan lain sebagainya. Termasuk informasi keberadaan pihak-pihak yang selama ini menghalangi komunikasi antara SBY dan Jokowi. Saya membayangkan, saat SBY blak-blakan, Jokowi pun terbelalak takjub. Tanggapan akan diberikan. Kemudian keduanya sepakat siapa yang sejatinya menjadi pangkal bala miss-komunikasi ini.

Kesalingpahaman ini kentara dari sikap paska pertemuan. Berbasis catatan saya, Jokowi menegaskan dua poin penting. Pertama, jalinan komunikasi antara presiden dengan mantan presiden harus ditradisikan. Kedua, budaya estafet pembangunan, di mana pencapaian-pencapaian presiden sebelumnya dilanjutkan oleh presiden yang berkuasa.

Sebaliknya, SBY memuji kinerja Presiden Jokowi, termasuk keberhasilan dalam menyambut kedatangan Raja Salman. Dalam kesempatan itu, SBY juga menawarkan gagasan brilian, yakni pembentukan wadah komunikasi bagi presiden dengan para mantan presiden. Pada titik ini, publik maklum, kalau miss-komunikasi antara SBY dan Jokowi sudah selesai.

Baca juga  Mendagri Lantik Polisi Jadi Pj Gubernur Jabar, Akal-akalan Petugas PDIP di Pemerintah?

Lancarnya komunikasi antara SBY dan Jokowi keruan membuat para petualang politik yang bercokol di sekitar istana pun panas dingin. Rahasia mereka sudah terungkap. Tetapi mustahil mereka akan melangkah surut. Terbukti Manuver untuk merenggangkan komunikasi presiden dan para mantan presiden sudah dilakukan hanya berselang beberapa jam dari pertemuan SBY-Jokowi. Ini yang harus kita waspadai.

Langkah petualang politik ini sudah diprediksi oleh SBY. Karenanya, SBY mengusulkan pembentukan wadah komunikasi antara presiden dan mantan presiden. Tetapi sekali lagi, semua berpulang kepada Jokowi. Apakah Jokowi akan tinggal diam atas sepak-terjang para petualang politik ini,  atau bersikap tegas dengan menendang mereka jauh-jauh. Bola kini ada di kaki Jokowi. Hendak disepak kemana, mari kita tunggu dan saksikan bersama.

Oleh:  Rahmat Thayib, penggiat Gerakan Demokrasi Keberadaban

OPINI TERKAIT

Akhir Distorsi Politik Joko Widodo – Susilo Bambang Yudhoyono

Benarkah Luhut “Perdana” Menteri Indonesia?

Meluruskan Pemberitaan Miring tentang Mobil VVIP Presiden RI-6 SBY

Terkait Penyadapan SBY, Jokowi Harus Bicara dan Bertindak sebagai Presiden

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here