Siapa yang Ngebet Jadi Wapresnya Jokowi 2019?

0
17891
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri), Menkopolhukam Wiranto dan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin (keempat kanan) berjalan menuju Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas) untuk mengikuti shalat Jumat bersama di Jakarta, Jumat (2/12).

A politician thinks of the next election. A statesman, of the next generation.

Segera setelah pemilu usai, yang dipikirkan seorang politikus tentu bagaimana cara memperbesar dan melanggengkan kekuasaannya. Konsolidasi politik dilakukan. Merangkul lawan politik adalah pilihan terakhir, dan jika mungkin tidak perlu dilakukan.

Harold Laswell pernah merumuskan politik sebagai “who gets what, when, and how”. Politik adalah tentang siapa, mendapatkan apa, kapan. dan bagaimana cara mendapatkannya. Apa yang terjadi pada jagat perpolitikan Indonesia dalam dua tahun ini adalah tamsil yang terang benderang dari rumusan Laswell. Analisis para pengamat juga tak jauh berkisar pada peta kekuasaan dan pembagian posisi.

Demikian kesan yang ditangkap jika mengamati sepak terjang Joko Widodo setelah memenangi Pilpres 2014. Ungkapan tidak akan bagi-bagi kekuasaan ibarat pepesan kosong. Penyusunan kabinet seperti terpeleset menjadi ajang pembagian posisi kepada para pendukung, lantas diikuti dengan beragam upaya yang mengesankan publik atas terjadinya penggerogotan kekuatan di pihak lawan.

Agaknya Jokowi berhasil. Hampir semua partai politik yang semula menjadi pengusung pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa nyatanya berbalik. Golkar, PPP, PAN sudah mendapatkan posisi di kabinet. Kekuatan kritis di parlemen terkesan semakin melemah. Barangkali lantaran tidak memiliki kepercayaan diri untuk menyampaikan kritik, para politikus seperti bungkam

Jokowi juga ditenggarai telah berpikir untuk memenangi pemilihan presiden berikutnya. Apalagi mengacu pada sejumlah survei yang baru-baru ini dirilis, Jokowi masih teratas dalam popularitas dan elektabilitasnya jika pilpres digelar saat ini. Belum ada tokoh politik atau dari kalangan non-politikus yang bisa mengungguli Jokowi. Tiga tahun sisa masa pemerintahannya tentu menjadi peluang yang pasti akan dimanfaatkan untuk terus meningkatkan popularitasnya. Inilah kelebihan yang dimiliki oleh calon inkumben.

Baca juga  Berharap Tuah ke Mahkamah Konstitusi

Bahkan menurut informasi yang diterima penulis, Jokowi telah membuka komunikasi dengan sejumlah nama untuk menjadi pendampingnya pada Pilpres 2019. Agaknya langkah itu semakin intens dilakukan terutama setelah Partai Golkar telah menjamin akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Dukungan dari Golkar itu menambah keyakinan Jokowi untuk meninggalkan PDIP yang selalu tarik ulur dengannya dalam berbagai hal.

Hampir pasti bukan Jusuf Kalla yang akan mendampingi dia kelak. Tahun 2019 usia JK sudah 78 tahun, dan cukup uzur untuk kembali terjun dalam kontestasi. Nama-nama yang muncul dan konon telah dijajaki Jokowi antara lain Tito Karnavian, Gatot Nurmantyo, Setya Novanto, dan Sri Mulyani Indrawati. Tak salah pula rasanya bila kedekatan Jokowi dan Prabowo Subianto mulai dimaknai publik sebagai sinyal bahwa mereka akan maju bersama pada Pilpres 2019.

Sebelum kasus Almaidah ayat 51 muncul menjadi bola liar, sejumlah pihak malahan telah memprediksi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah nama yang paling potensial untuk mendampingi Jokowi. Namun peluang Ahok untuk menjadi pendamping sangat tergantung pada hasil akhir dari kasus hukum yang menjeratnya dan juga ujung dari kontestasi di Pilgub DKI Jakarta.

Selain nama-nama yang telah diajak bicara tersebut, sejumlah nama lain juga telah muncul sebagai kandidat cawapres. Mereka antara lain Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, dan Ganjar Pranowo.

Baca juga  Revolusi Mental yang Gagal Total

Banyak tokoh yang sudah nampak kegeeran karena digadang-gadang menjadi kandidat cawapres. Beberapa nama bahkan mulai terkesan genit melakukan pencitraan agar terus muncul dalam perbincangan publik. Bahkan disinyalir ada di antara nama tersebut yang bersikap ‘asal bapak senang’ agar membuat Jokowi terkesan dan menaruh minat terhadapnya.

Tak sulit menebak siapa saja tokoh-tokoh yang mulai kegenitan agar dilirik Jokowi. Bahkan ada di antaranya yang memiliki ekspektasi lebih untuk menjadi calon presiden. Ia bergerilya ke daerah-daerah, menemui ulama dan masyarakat, hingga membentuk tim cyber yang membuat konten berisi puja dan puji.

Siapapun mereka yang ngebet ingin jadi cawapres mendampingi Jokowi kelak, jika ia saat ini memegang jabatan publik, semestinya memberikan kinerja terbaiknya. Bukan sekadar pencitraan kosong yang tak diisi dengan kapabilitas dan kapasitas yang mumpuni. Ia juga harus bersih dari korupsi dan tidak tergoda untuk menumpuk materi untuk mencapai kekuasaan berikutnya.

Kekuasaan memang menggiurkan. Kekuasaan membuat siapapun bisa lupa akan tugas yang di amanahkan, terlebih bagi yang haus akan kekuasaan.

Oleh: Jamil Jiddan (pemerhati sosial politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here