Post-Power Syndrome yang Prematur

0
13824

Hakikat suci dari kekuasaan pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan suatu ketertiban dalam sendi-sendi bernegara. Para ahli hukum tatanegara paham betul tentang teori kontrak sosial yang dikemukakan oleh Jean Jacques Roessau yang menyatakan bahwa kekuasaan negara dalam memerintah berasal dari kehendak rakyat yang memberikan setengah “kekuasaanya” kepada negara  untuk mengaturnya. Sejalan dengan konsep negara demokrasi yang meletakkan kekuasaan sejatinya pada tangan rakyat.

Pemerintah selaku pemegang kendali kehidupan bernegara mendapatkan legitimasi sebagai penguasa pun timbul karena adanya kehendak rakyat sebagai konsekuensi dari demokrasi.

Pemerintah dan kekuasaan merupakan manifestasi kelembagaan yang tidak dapat dipisahkan, karena pada pemerintahlah melekat sifat penguasa yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Namun, bukan berarti sifat penguasa juga melekat kepada pejabat publik yang menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan.  Kehendak rakyatlah yang menjadi dayung utama penggerak dalam setiap proses pergantian “rezim penguasa”.  Maka pergantian “rezim penguasa” merupakan hal lumrah yang tidak perlu ditakutkan. Ia merupakan ritual yang terus bergerak seperti detak detik arah jarum jam yang tak terhentikan.

Tujuan dari berkuasanya suatu rezim dalam pemerintahan ialah bermuara kepada kesejahteraan rakyat. Sikap bijaksana dari setiap pejabat publik yang sedang berkuasa dalam hal menyikapi dinamika sosial di tengah masyarakat menjadi titik kunci setiap “rezim penguasa” yang memperlihatkan relasi antara penguasa dan rakyat.

Baca juga  Ketua KPU Tanggapi Positif Seruan SBY

Revolusi yang terjadi pada 1998 dan diberi label Reformasi menunjukkan buruknya relasi antara masyarakat dengan penguasa pada saat itu yang dikenal sebagai rezim Orde Baru. Rezim pada saat itu dinilai bersifat terlalu represif dan anti-kritik, sehingga rakyat merasa hak demokrasi mereka dibungkam secara mutlak.

Sejatinya penguasa tidak boleh memiliki sifat anti-kritik karena hal tersebut menggambarkan bahwa mereka ketakutan apabila kehilangan kekuasaan mereka atau biasa disebut post-power syndrome.

18 Tahun setelah Reformasi, riak-riak ketakutan tersebut perlahan mulai menampakan diri dari persembunyian lamanya. Penangkapan beberapa aktivis terkait dengan aksi 411 dan 212 kemarin dengan tuduhan makar menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.

Sejatinya tuduhan makar merupakan tuduhan serius yang mengharuskan terpenuhi unsur-unsur dalam hukum positif.

Publik menjadi bertanya-tanya apakah penangkapan yang terlalu dini tersebut mengindikasikan bahwa si pemegang kuasa saat ini sedang diterpa penyakit post-power syndrome  atau takut kehilangan kekuasaannya?

Sejatinya post-power syndrome merupakan gejala wajar yang timbul pada para pejabat pemerintahan yang mendekati masa pensiun, yang berdasarkan ilmu psikologi gejala tersebut timbul akibat kecemasan para pejabat yang sudah berumur beraktifitas pascapensiun.

Baca juga  Oknum BIN, POLRI, TNI, Pemerintah Bahkan Negara Tidak Netral Dalam Pilkada ?

Sedangkan apabila gejala post-power syndrome yang timbul sebagai dampak dari sifat anti-kritik rezim penguasa terhadap rakyat merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan negara demokrasi.

Post-power syndrome yang terlalu prematur ini dapat menjadi simbol bahwa suatu rezim menginginkan kekuasaan mutlak tanpa peduli gejala-gejala yang ada dalam masyarakat. Kritik rakyat terhadap “rezim penguasa” merupakan cambuk sosial demi kemajuan bangsa, sehingga si penguasa harus segera mengobati gejala post-power syndrome yang terlalu prematur.

Tak perlu berlebihan galau melihat arah detak dan detik jarum jam yang setia melewati ritualnya, yang terpenting bekerjalan dengan terukur dan nyaman memajukan kesejahteraan umum, niscaya rakyat terus memberikan dukungannya sampai tuntas. Sebab para ahli hukun tatanegara mencatat dengan terang NKRI tak boleh mati, penyelenggaraan pemerintahan datang silih berganti sesuai periodesasi konstitusi.

Oleh: Zainal Arifin (pemerhati hukum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here